Sabtu, 25 September 2010

songkok pengrajin dari gresik


songkok gresik

nabila asad
x-3 (18)

**KEUNIKAN GAGASAN**
songkok adalah suatu ciri khas dari kota gresik, yang digunakan oleh setiap orang untuk bersembahyang
Cara pemakaiannya juga lebih meluas,bersesuai pengguna dari alangan anak-anak hingga dewasa.

**KETERANGAN**
Bagi perajin songkok atau kopiah di Kabupaten Gresik, Jawa Timur, bulan suci Ramadhan merupakan masa "panen."

Salah satunya adalah perajin songkok rumahan "Awing" di Kelurahan Blandongan, Kecamatan Kota Gresik.

Bahkan, perajin setempat mendapatkan berkah (barokah/nilai tambah) sejak tiga bulan menjelang Ramadhan 1431 Hijriah.

**KEUNIKAN TEKNIK**
Mencelup benang

Benang perlu dibersihkan sebelum dicelup ke dalam pewarna. Setelah pewarnaan dibuat benang perlu di keringkan, sebelum kerja selanjutnya dilaksanakan.
Melerai benang

Pelenting yang diperbuat daripada buluh kecil digunakan untuk melilit benang. Proses ini dilakukan dengan bantuan alat darwin dan alat pemutar rahat.
Menganeng benang

Proses membuat benang loseng yang diregang di alat penenun bagi menentukan saiz panjang atau jumlah helai kain yang akan ditenun.
Menggulung

Benang-benang yang diregang di alat menganeng (ianian) digulung dengan sekeping papan loseng
Menyapuk benang

Setelah benang loseng dimasukkan ke dalam gigi atau sikat jentera, kerja-kerja menyapuk dilakukan. Dua urat benang loseng dikaitkan melalui setiap celah gigi jentera.
Mengarak benang

Karak dibuat daripada benang asing yang digelung. Benang loseng berangka genap dan ganjil akan diangkat turun naik secara berselang seli sewaktu menenun.
Menyongket benang

Proses mereka corak di atas benang loseng dengan menggunakan alat yang di panggil lidi dengan menyongketkan benang loseng sebanyak tiga atau lima lembar dan kemudian diikat dan dikenali sebagai proses ikat butang.
Menenun

Alat torak yang diisi dengan benang pakan atau benang emas, dimasukkan ke kiri dan kanan di celah-celah benang loseng mengikut corak yang telah ditentukan hinggalah menjadi sekeping kain. Kain yang telah siap ini dipotong mengikut saiz.

Songkok gresik









NURVIKA MIRA EKA LESTARI
X-3 (22)

SONGKOK GRESIK

-Setiap bulan Suci Ramadhan tiba selalu membawa berkah bagi perajin songkok, termasuk pengrajin songkok rumahan Awing di Kelurahan Blandongan Kecamatan Kota Gresik, Jawa Timur, yang saat ini sedang kebajiran order (pesanan). Dalam tiga bulan ini 30 ribu songkok yang berhasil diproduksi oleh Awing sudah ludes terjual atau sudah diambil pemesan.

Menurut bagian penjualan produksi songkok Awing, Benny Wahidin mengatakan, pemesan songkok Awing lebih banyak dari daerah Jawa Barat. Dari 30 ribu songkok yang sudah terjual menjelang Ramadhan tahun ini sebanyak 20 ribu beredar di Jawa Barat.

"Sebenarnya produksi kita beredar ke seluruh Indonesia dan bahkan ke luar negeri. Seperti Singapura, Malaysia, dan Brunai Darussalam. Tetapi memang pasar kita terbanyak berada di Jawa Barat dan Jakarta. Ramadhan tahun ini ada sekitar 20 ribu songkok yang sudah beradar di Jakarta," kata Benny Wahidin, Jumat (27/8). Bulan Ramadhan ini, Awing masih melakukan produksi hingga mendekati Hari Raya nanti dengan target produksi 15 ribu songkok, sesuai dengan pesanan yang masuk.

Awing menjual hasil produksinya dengan harga bervariasi, mulai harga termahal Rp 115 ribu hingga paling murah Rp 20 ribu. Memasuki Ramadhan tahun ini Awing sudah mendapatkan omzet sekitar Rp 4 miliar.

"Memang pasar songkok yang paling rame ketika mendekati bulan Ramadhan dan Hari Raya. Mendekati Rp 4 miliar kurang lebih," jelasnya. "Kalau hari-hari biasa songkoknya hanya laku setengah dari penjualan saat memasuki Ramadhan seperti sekarang," tandasnya. Benny menceritakan, Awing berdiri tahun 1986. Home indutry ini, awalnya mengkoordinir beberapa perajin songkok yang ada di Blandongan.

Sebelumnya, songkok yang dihasilkan pengrajin Blandongan kerangka dalamnya berbahan kertas, ini membuat usia songkok tak tahan lama. Berangkat dari pengalaman itu, Awing berusaha berinovasi dengan menggunakan kerangka berbahan kain keras.

Kelebihan mengggunakan kerangka berbahan kain keras ini lebih nyaman dan enak penggunaannya. Tapi, pengrajin di seluruh Indonesia dan tentunya juga di Blandongan tak berani meniru menggunakan kerangka berbahan kain keras kala itu. "Biayanya lebih mahal," jelas Benny.

Tahun 1986 saat itu, tambahnya, harga songkok yang menggunakan kerangka berbahan kertas Rp 3 ribu sedangkan dengan menggunakan bahan kain keras mencapai lima kali lipatnya, Rp 15 ribu. Tapi, Awing tetap optimis, dan hasilnya tak seperti dugaan perajin songkok lainnya, songkok bikinan Awing direspons baik oleh konsumen.

Songkok seharga Rp 15 ribu bikinan Awing itu mampu menarik banyak konsumen. Dan perajin lain pun membuntuti langkah Awing. Perlahan-lahan Awing dikenal oleh banyak konsumen dan perusahaan itu semakin mengembangkan sayapnya. Hingga tahun 1992, Awing membuka cabang di Jakarta dan kewalahan menerima order.

"Pada tahun-tahun itu, almarhum mantan Presiden RI Soeharto pun menggunakan songkok Awing, setiap tiga bulan sekali, ajudan Presiden memesannya langsung," jelas Benny. Dalam perkembangannya, tambah Benny, orang menggunakan songkok tak hanya untuk beribadah, tapi juga untuk kepentingan-kepentingan formal. Awing mampu memproduksi sedikitnya 300 ribu songkok per tahun dengan omzet mencapai Rp 7 miliar setahun.

batik loh bandeng






maulidia fatimah

X-3 (14)



"Loh Bandeng" Ikon Baru Batik Gresik

Gresik (ANTARA News) "Sanggar Rumpaka Mulya" Desa Wringinanom RT 01 RW 03 Kecamatan Wringinanom Kabupaten Gresik, Jawa Timur, menciptakan motif baru ikon batik Gresik "Loh Bandeng"

Motif Loh Bandeng cukup sederhana, tetapi motifnya sangat menari. Ikan bandeng digambarkan dengan sisiknya yang sedikit menonjol berjajar setengah badan.

Kemudian ditutup dengan kreasi gradasi warna, dengan pewarnaan gelap dan terang yang menimbulkan efek tiga dimensi.

"Desain ini sengaja kami ciptakan, agar mudah dibuat dan dipelajari para pengusaha bathik," kata Anang Samsul Arifin pemilik sanggar Rumpaka Mulya dan sekaligus pencetus batik "Loh Bandengan"

Ia menjelaskan, sekarang ada keengganana membatik membutuhkan keterampilan dan kesabaran ekstra. Tapi jika melihat motif Loh Bandeng, paradigma itu akan luntur.

"Kami sengaja menyederhanakan motifnya, sehingga untuk menggairahkan batik yang sudah menjadi seni dan bidaya bangsa Indonesia. Agar menggairahkan Sumber Daya Manusia (SDM) untuk memproduksi batik Loh Bandeng," ujarnya

Arifin memastikan, saat ini ratusan tenaga telah siap untuk memproduksi batik Loh Bandeng. Selama ini di Sanggar Rumpaka Mulya di Desa Wringinanom RT 01 RW 03 Kecamatan Wringinanom Kabupaten Gresik selalu diadakan pelatihan.

Pesertanya beragam, mulai dari buruh pabrik, guru, ibu rumah tangga, dan siswa. Tidak hanya warga dari Gresik yang tertarik belajar Loh Bandeng, ada yang dari Malang, Probolinggo, Tuban, dan Bojonegoro berdatangan mempelajari batik Loh Bandeng.

"Sebelum kami pasarkan secara massal, kami saat ini tengah mempersiapkan tenaga, semakin banyak orang yang bisa membatik Loh Bandeng, motif baru ini akan semakin banyak dikenal di masyarakat, selain itu kita tidak akan kekurangan SDM,? kata pria yang menjadi pencipta busana khas Pasuruan tahun 2003 lalu.

Artinya, selain menciptakan tenaga pembatik, saat ini dia tengah melakukan promosi, baik melalui pelatihan atau pameran-pameran. Semakin banyak orang yang memiliki keterampilan membatik Loh Bandeng menurut Arifin akan semakin meningkatkan nilai jualanya.

Bapak dua anak ini sengaja memilih bandeng sebagai objek utama batiknya, karena bandeng paling representatif mewakili masyarakat Gresik yang sebagian besar petani bandeng, khususnya di daerah pesisir utara. Sedangkan kata "loh" sendiri diambil dari Bahasa Jawa yang artinya `ikan`.

Batik Loh Bandeng, bandeng-bandeng tersebut digambarkan bergerombol searah tanpa kepala memiliki arti filosofis.

"Kami menyukai kebersamaan, di dalam kebersamaan kita adalah sama, karena itu digambarkan tanpa kepala. Kebersamaan menggambarkan keharmonisan, kita tidak akan bisa bersama tanpa memiliki tujuan yang sama," papar pria kelahiran Malang tahun 1963 tersebut.

Selain ikan bandeng, Arifin juga memiliki desain baru lain, yaitu menggabungkan objek rusa Bawean, pohon buah merah asli Bawean, dan sungai Brantas. Arifin memilih rusa endemik Bawean dan pohon buah merah karena ingin menonjolkan kekhasan Gresik, sedangkan sungai Brantas dia tampilkan, sebagai wujud keprihatinan dia dan warga lain di Wringinanom yang tinggal di bantaran sungai Brantas.

"Sungai Brantas di daerah kami sangat kotor, alangkah indahnya jika sungai itu bebas dari sampah dan polusi," jelasnya.

Batik Loh Bandeng ini dibuat dengan menggunakan pewarna alami. Misalnya, warna kuning dibuat dari buah nangka, merah dari mengkudu atau biji pohon kesumba, kuning kehijauan dari buah mangga.

"Target kami adalah pasar internasional, dan mereka biasanya lebih menyukai produk yang berbahan alami," kata Arifin.

Saat ini, dia memastikan tenaga pembatik telah siap. Dia mempersilahkan jika ada investor yang ingin menggunakan batik Loh Bandeng untuk diproduksi secara masal. Arifin memastikan jika batik Loh Bandeng memiliki nilai tawar yang tinggi. Dia mencontohkan, saat pameran, beberapa produk Loh Bandeng yang dia buat tidak pernah tersisa untuk dibawa pulang kembali, selalu habis terjual.

"Pertama kali pameran, batik Loh Bandeng ditawar oleh seorang pembeli yang mengaku seniman dari Bali seharga Rp 5 juta, padahal biaya produksi batik itu hanya Rp 900 ribuan," ceritanya.

Sementara itu, dalam waktu dekat, Arifin akan mematenkan batik Loh Bandengnya. Kendati demikian, semua orang berhak menggunakan motif batik Loh Bandeng tanpa mencantumkan nama dia sebagai penciptanya.

"Kami menerima dengan senang hati jika ada investor yang berkenan untuk memproduksi batik Loh Bandeng," pungkas Arifin.

songkok


Veronika Prastiwi

X-1 / 30

KETERANGAN

Songket merupakan sejenis kain yang biasanya ditenun tangan, dan mempunyai corak rumit benang emas atau perak. Perkataan songket bermaksud membawa keluar atau menarik benang daripada kain atau menenun menggunakan benang emas dan perak.

Dari segi sejarah, ia hanya dipakai golongan bangsawan - keluarga kerabat diraja dan orang besar negeri. Kehalusan tenunan dan kerumitan motif corak songket ketika itu menggambarkan pangkat dan kedudukan tinggi seseorang pembesar. Ia telah terkenal di Malaysia dan Indonesia sejak abad ke-13 yang lampau.

Songket punya nilai sejarah yang tinggi sebagai fabrik warisan agung. Selain mengangkat martabat si pemakai, motif dan warna tenunan songket melambangkan kedudukan seseorang.

Selain itu Songkok disebut juga sebagai peci atau kopiah merupakan sejenis topi tradisional bagi orang Melayu. Di Indonesia, songkok yang juga dikenal dengan nama peci ini kemudian menjadi bagian daripada pakaian nasional, dan dipakai tidak hanya oleh orang Islam. Songkok juga dipakai oleh tentara dan polisi Malaysia dan Brunei pada upacara-upacara tertentu.

Songkok ini populer bagi masyarakat Melayu di Malaysia, Singapura, Indonesia dan selatan Thailand. Topi ini dikatakan berasal dari fez yang dipakai di Ottoman Turki. Songkok menjadi popular dikalangan India Muslim dan menurut pakar kemudiannya berangsur menjadi songkok di Alam Melayu. Dalam kesusteraan Melayu, songkok telah disebut dalam Syair Siti Zubaidah (1840) "...berbaju putih bersongkok merah....".

Bagi kalangan orang Islam di Nusantara, songkok menjadi pemakaian kepala yang rasmi ketika menghadiri upacara-upacara resmi seperti upacara perkawinan, salat Jumat, upacara keagamaan dan sewaktu menyambut Idul Fitri dan Idul Adha. Songkok juga dipakai sebagai pelengkap kepada baju Melayu yang dipakai untuk menghadiri majelis-majelis tertentu.

KEUNIKAN GAGASAN:

Hari ini, pemakainya lebih menyeluruh, tidak terhad kepada kerabat diraja. Cara pemakaiannya juga lebih meluas, bersesuaian dengan majlis begitu juga corak dan motifnya yang semakin kontemporari, sesuai dengan perubahan dan peredaran masa. Suasana yang melatari songket kini turut berubah selaras dengan peredaran masa.

Kini, usaha untuk memastikan kesinambungan industri songket masih berterusan dan secara relatifnya berjaya mencapai tahap yang memuaskan sehingga songket semakin popular digunakan sebagai busana majlis perkahwinan, hantaran perkahwinan, cenderahati dan hiasan dinding. Peningkatan kos penghasilan sutera, benang emas dan perak serta perubahan fesyen dan trend sedikit sebanyak mempengaruhi industri songket seawal pertengahan abad ke-20.

PROSES PEMBUATAN :

Secara ringkasnya proses menenun songket adalah dengan menggunakan teknik menyungkit iaitu menggunakan lidi buluh atau bilah nibung melalui benang loseng (warp) di permukaan alat tenun yang dipanggil kek tenun. Proses menyungkit dilakukan setelah benang karat butang disediakan. Benang karat butang digunakan untuk membuat reka corak atau sulaman benang emas.

Mencelup benang

Benang perlu dibersihkan sebelum dicelup ke dalam pewarna. Setelah pewarnaan dibuat benang perlu di keringkan, sebelum kerja selanjutnya dilaksanakan.

Melerai benang

Pelenting yang diperbuat daripada buluh kecil digunakan untuk melilit benang. Proses ini dilakukan dengan bantuan alat darwin dan alat pemutar rahat.

Menganeng benang

Proses membuat benang loseng yang diregang di alat penenun bagi menentukan saiz panjang atau jumlah helai kain yang akan ditenun.

Menggulung

Benang-benang yang diregang di alat menganeng (ianian) digulung dengan sekeping papan loseng

Menyapuk benang

Setelah benang loseng dimasukkan ke dalam gigi atau sikat jentera, kerja-kerja menyapuk dilakukan. Dua urat benang loseng dikaitkan melalui setiap celah gigi jentera.

Mengarak benang

Karak dibuat daripada benang asing yang digelung. Benang loseng berangka genap dan ganjil akan diangkat turun naik secara berselang seli sewaktu menenun.

Menyongket benang

Proses mereka corak di atas benang loseng dengan menggunakan alat yang di panggil lidi dengan menyongketkan benang loseng sebanyak tiga atau lima lembar dan kemudian diikat dan dikenali sebagai proses ikat butang.

Menenun

Alat torak yang diisi dengan benang pakan atau benang emas, dimasukkan ke kiri dan kanan di celah-celah benang loseng mengikut corak yang telah ditentukan hinggalah menjadi sekeping kain. Kain yang telah siap ini dipotong mengikut saiz.

CORAK DAN MOTIF :

Corak dan motifnya memaparkan ciri-ciri unik identiti orang Melayu dan sekali gus mencerminkan cita rasa budaya bangsa yang mekar dalam persekitaran yang kaya dengan keindahan dan keunikan. Antara corak yang digunakan:

Susunan bunga penuh

Susunan bunga bertabur

Susunan bercorak

Motif yang digunakan pula adalah seperti:

Motif Tumbuh-tumbuhan

Motif Binatang

Motif Alam/Benda

Motif Kuih





Jumat, 24 September 2010

batik dulit sisik bandeng


name : indi rachmah winona
class : x-3
absent : 10



BATIK DULIT SISIK BANDENG

Keterangan

Batik Dulit Sisik Bandeng
merupakan ikon baru batik khas kota Gresik, yang makin bersinar di tengah gempuran produk-produk dari negara lain. Batik dengan motif mengangkat produk lokal seperti sisik ikan bandeng, justeru makin diminati, karena mempertahankan nuansa tradisional, tanpa bahan baku kimia, serta menggunakan daun-daun tanaman, yang banyak tumbuh di lingkungan sekitar rumahnya, sebagai bahan pewarna alami.

Arty Israwan (48 tahun) adalah satu-satunya perajin batik dulit sisik bandeng, khas Gresik, di kompleks perumahan Gresik kota baru, kecamatan kebomas, kabupaten Gresik. Di namakan batik tulid, karena proses pewarnaannya di dulit atau hanya di oleskan menggunakan kanvas.

Meski gempuran produk-produk batik dari negara asing mulai membanjiri pasar dalam negeri, tetapi wanita yang telah dikaruniai tiga orang anak tersebut, pantang menyerah dan terus melakukan inovasi produk-produknya.

Berkat ketekunan dan semangat kerjanya, produk batik buatannya, justeru semakin bersinar dan mulai banyak diminati warga.

Batik dulit sisik bandeng dan mahkota giri, merupakan salah satu produk batik unggulan, karya tangan terampilnya, yang kini mulai disuka warga.

Menurut Arty, selain mempertahankan nuansa lokal tradisional, dirinya juga tidak menggunakan bahan-bahan kimia sebagai pewarna produknya. Tetapi, menggunakan bahan-bahan alamiah, diantaranya daun jati, daun sirih, daun kenikir, daun jambu, dan tanaman lain yang banyak tumbuh di lingkungan sekitar rumah warga.

Terobosan ini, sengaja dilakukan agar kualitas produknya makin terjaga. Dengan bahan alamiah ini, produk batik buatanya, tidak membuat alergi, dan nyaman dipakai setiap orang. “Saya gunakan daun daun alami sebagai pewarnanya, untuk mempertahankan kesan alami", ujarnya.

Dengan mengandalkan bahan dan motif lokak itulah, batk dulit milik arty semakin di suka pelanggannya karena mampu membangkitkan rasa percaya diri. Ita rahmawati, salah satu konsumen batik misalnya, mengatakan, sangat menyukai batik sisik bandeng, karena dingin dipakai, dan corak warnanya identik dengan warga Gresik, sebagai penghasil bandeng. “Batik ini menambah rasa percaya diri saya”, ungkapnya.
Sama dengan produk batik lainnya, pembuatan batik dulit sisik bandeng diawali dengan pembuatan desain, dan dilanjutkan dengan proses canting.

Setelah itu, dilanjutkan dengan proses dulit, yakni pewarnaan melalui olesan yang dilanjutkan dengan proses nembok, menggunakan malam, untuk menutup warna.

Selanjutnya, kain direbus untuk menghilangkan malam, dan dilanjutkan dengan pewarnaan, yang memanfaatkan menggunakan bahan baku alamiah, yakni daun-daun tanaman, yang memiliki pewarna alami, diantaranya daun sirih, yang banyak tumbuh di sekitar pekarangan.
Sedangkan, produk batik dulit khas Gresik ini dijual dengan harga bervariatif mulai dari 150 ribu sampai dengan satu setengah juta rupiah, tergantung kualitas kainnya.

Di tengah kesuksesannya memperkenalkan produk lokal khas daerah ini, arty mengaku mengalami kendala modal dan promosi. Arty berharap pemerintah setempat memperhatikan kelangsungan usahanya. Apalagi, Arty saat ini tengah menanggung nasib 6 orang karyawannya yang menggantungkan hidup pada penjualan batik dulit.

DAMAR KURUNG


NAMA :MARO'ATUL CHOIRIYAH
KELAS :X-2
NO.ABS :17

DAMAR KURUNG

Apa yang disebut damar kurung adalah semacam lampion (damar=lampu) berbentuk kotak persegi dari kertas dengan tulang-tulang bambu, ada lampu di tengahnya.

KEUNIKAN GAGASAN

Pada sisi-sisi damar kurung itulah Masmundari melukis dengan nuansa yang khas ramadan. Tradisi damar kurung ini memang lekat dengan ramadan, yakni setiap menjelang ramadan ada tradisi menjual damar kurung di Gresik. Hanya sayangnya, tradisi itu kemudian nyaris punah karena tak ada lagi yang melukis damar kurung, kecuali Masmundari satu-satunya.

KEUNIKAN TEKHNIK

Dalam pandangan seni rupa, lukisan-lukisan nenek ini sedemikian unik. Ada yang menyebut bergaya naif, kekanak-kanakan, dan dia melukis seperti meluncur begitu saja. Maka seorang perupa asal Gresik, Imang AW tertarik untuk mengangkatnya dalam khasanah lukisan pada umumnya. Masmundari diminta melukis dengan bahan dan alat melukis yang lebih bagus, melukis di atas selembar kertas, kemudian dibingkai sebagaimana lukisan pada umumnya. Maka jadilah lukisan gaya Masmundari yang menarik banyak kalangan dalam pameran di Jakarta dan hotel-hotel besar serta mendapat perhatian dari petinggi negeri termasuk Presiden RI.




Sabtu, 04 September 2010

songkok khas gresik


Nama : Nandini Candrika
Kelas : X-1
No. Absen : 26


**KEUNIKAN GAGASAN** :

-- Hari ini, pemakainya lebih menyeluruh, tidak terhad kepada kerabat diraja. Cara pemakaiannya juga lebih meluas, bersesuaian dengan majlis begitu juga corak dan motifnya yang semakin kontemporari, sesuai dengan perubahan dan peredaran masa. Suasana yang melatari songket kini turut berubah selaras dengan peredaran masa.

Kini, usaha untuk memastikan kesinambungan industri songket masih berterusan dan secara relatifnya berjaya mencapai tahap yang memuaskan sehingga songket semakin popular digunakan sebagai busana majlis perkahwinan, hantaran perkahwinan, cenderahati dan hiasan dinding. Peningkatan kos penghasilan sutera, benang emas dan perak serta perubahan fesyen dan trend sedikit sebanyak mempengaruhi industri songket seawal pertengahan abad ke-20.

**KETERANGAN** :

-- Songket
merupakan sejenis kain yang biasanya ditenun tangan, dan mempunyai corak rumit benang emas atau perak. Perkataan songket bermaksud membawa keluar atau menarik benang daripada kain atau menenun menggunakan benang emas dan perak.

Dari segi sejarah, ia hanya dipakai golongan bangsawan - keluarga kerabat diraja dan orang besar negeri. Kehalusan tenunan dan kerumitan motif corak songket ketika itu menggambarkan pangkat dan kedudukan tinggi seseorang pembesar. Ia telah terkenal di Malaysia dan Indonesia sejak abad ke-13 yang lampau.

Songket punya nilai sejarah yang tinggi sebagai fabrik warisan agung. Selain mengangkat martabat si pemakai, motif dan warna tenunan songket melambangkan kedudukan seseorang.


**PROSES PEMBUATAN** :

-- Secara ringkasnya proses menenun songket adalah dengan menggunakan teknik menyungkit iaitu menggunakan lidi buluh atau bilah nibung melalui benang loseng (warp) di permukaan alat tenun yang dipanggil kek tenun. Proses menyungkit dilakukan setelah benang karat butang disediakan. Benang karat butang digunakan untuk membuat reka corak atau sulaman benang emas.

Mencelup benang

Benang perlu dibersihkan sebelum dicelup ke dalam pewarna. Setelah pewarnaan dibuat benang perlu di keringkan, sebelum kerja selanjutnya dilaksanakan.

Melerai benang

Pelenting yang diperbuat daripada buluh kecil digunakan untuk melilit benang. Proses ini dilakukan dengan bantuan alat darwin dan alat pemutar rahat.

Menganeng benang

Proses membuat benang loseng yang diregang di alat penenun bagi menentukan saiz panjang atau jumlah helai kain yang akan ditenun.

Menggulung

Benang-benang yang diregang di alat menganeng (ianian) digulung dengan sekeping papan loseng

Menyapuk benang

Setelah benang loseng dimasukkan ke dalam gigi atau sikat jentera, kerja-kerja menyapuk dilakukan. Dua urat benang loseng dikaitkan melalui setiap celah gigi jentera.

Mengarak benang

Karak dibuat daripada benang asing yang digelung. Benang loseng berangka genap dan ganjil akan diangkat turun naik secara berselang seli sewaktu menenun.

Menyongket benang

Proses mereka corak di atas benang loseng dengan menggunakan alat yang di panggil lidi dengan menyongketkan benang loseng sebanyak tiga atau lima lembar dan kemudian diikat dan dikenali sebagai proses ikat butang.

Menenun

Alat torak yang diisi dengan benang pakan atau benang emas, dimasukkan ke kiri dan kanan di celah-celah benang loseng mengikut corak yang telah ditentukan hinggalah menjadi sekeping kain. Kain yang telah siap ini dipotong mengikut saiz.


**CORAK DAN MOTIF** :

-- Corak dan motifnya memaparkan ciri-ciri unik identiti orang Melayu dan sekali gus mencerminkan cita rasa budaya bangsa yang mekar dalam persekitaran yang kaya dengan keindahan dan keunikan. Antara corak yang digunakan:

  • Susunan bunga penuh
  • Susunan bunga bertabur
  • Susunan bercorak

Motif yang digunakan pula adalah seperti:

  • Motif Tumbuh-tumbuhan
  • Motif Binatang
  • Motif Alam/Benda
  • Motif Kuih

BATIK SISIK BANDENG KHAS GRESIK

Nama: Lutfi Maula Robbi

Kelas:X-3

NO: 12

BATIK NDULIT SISIK BANDENG GRESIK.

Mari rehat sejenak meninggalkan Jakarta yang semakin sumpek dengan mengalihkan perhatian sejenak ke kota sahabat sehat dengan kundalini reiki Sdr. Arief Wibisono yang tinggal di Gresik Jawa Timur. Kedatangan kami Rabu 14/04/2010 lalu selain ingin melihat Gresik sebagai kota yang menghasilkan semen untuk bahan bangunan rumah, juga ingin melihat peninggalan Mesjid Agung Gresik. Gresik mendapat sebutan kota wali, terkenal pula lukisan lampion karya Masmundari almarhumah yang begitu melegenda sejak dulu, ternyata kota ini diam-diam juga menghasilkan batik.

Geliat produksi batik paska penetapan hak paten oleh Unesco bahwa batik sebagai budaya asli Indonesia, semakin menggairahkan perajin batik lokal gaya pesisir utara Jawa Timur tepatnya di Gresik untuk membuat batik khas pesisir utara Jawa Timur. Ikon batik dengan motif lokal khas daerah pun seperti di Gresik ini pun bermunculan. Salah satunya adalah batik ndulit sisik bandeng khas Gresik.

Geliat batik ndulit sisik bandeng ternyata sudah dimulai lima bulan lalu. Usaha kecil menengah UKM ini dikelola oleh Siti Zainubah Budiarty atau akrab dipanggil Bu Arti. Lokasi pabrik batik mudah ditemui tepatnya di Jalan Magetan Kecamatan Kebomas, Kompleks Perumahan Gresik Kota Baru. Aktivitas produksi batik tidak pernah sepi dari pesanan seiring meningkatnya pesanan. Tidak itu saja selain pengakuan batik oleh Unesco terhadap batik lokal seperti batik Gresik ini, peminat batik mulai melirik motif khas budaya lokal seperti batik Gresik ini.

Batik Dulit Sisik Bandeng merupakan ikon baru batik khas kota Gresik, yang makin bersinar di tengah gempuran produk-produk dari negara lain. Batik dengan motif mengangkat produk lokal seperti sisik ikan bandeng, justeru makin diminati, karena mempertahankan nuansa tradisional, tanpa bahan baku kimia, serta menggunakan daun-daun tanaman, yang banyak tumbuh di lingkungan sekitar rumahnya, sebagai bahan pewarna alami.

Yang menjadi ciri khas batik Gresik adalah motip sisik bandeng yang menjadi ikon baru batik lokal khas Gresik. Selain motipnya yang khas dan tetap mempertahankan nuansa tradisional, penggunaan pewarna alami tanpa bahan kimia dengan bahan alami dari daun jati, daun sirih, daun kenikir dan daun jambu pun dipergunakan untuk pewarnaan kain batik ini. Dengan pewarnaan alami ini maka batik ndulit yang dihasilkan pun lebih natural dengan corak khas sisik bandeng.

Dinamakan batik ndulit karena proses pewarnaannya dengan cara di dulit atau dioleskan dengan menggunakan kanvas dari batang rotan. Sementara inovasi penggunaan motif lokal sisik bandeng dan mahkota giri diambil karena Gresik merupakan salah satu sentra penghasil ikan bandeng yang sudah cukup lama dikenal masyarakat pesisir utara Jawa Timur khususnya warga Surabaya dan sekitarnya. Sama dengan produk batik lainnya, pembuatan batik ndulit sisik bandeng ini pun diawali dengan pembuatan desain di atas kain putih.

Dengan mengikuti alur coretan pensil di atas kain putih, pekerja batik lalu menorehkan malam atau lilin dengan menggunakan canting mengikuti pola batik sisik bandeng yang terlukis di kain putih. Selesai proses menyanting, tahap berikutnya adalah proses ndulit atau memberi warna motif desain dengan menggunakan kanvas dari rotan. Selesai proses ini kemudian dilanjutkan proses nembok dengan menggunakan malam atau lilin untuk menutup warna yang telah ditorehkan pada motif sisik bandeng.

Selanjutnya kain siap untuk memasuki proses pewarnaan total dan menghilangkan malam yang dicelupkan di dalam jambangan berisi air panas mendidih yang disebut dengan nglorot. Proses nglorot selesai lalu kain dicuci bersih kemudian diangin-anginkan di bawah atap rumah agar tidak terkena terpaan sinar matahari untuk menghindari warna tidak luntur dan tetap alami. Batik ndulit khas Gresik ini dijual dengan harga bervariasi. Mulai harga seratus dua puluh lima ribu rupiah sampai satu setengah juta rupiah tergantung kualitas kain yang digunakan.

Ternyata batik ndulit karya Bu Arty ini sudah mulai dipasarkan di beberapa kota antara lain Surabaya, Lamongan dan Malang. Di tengah kesuksesan memperkenalkan produk batik lokal khas daerah Gresik ini, demi kelangsungan usahanya sebagai usaha kecil menengah pihaknya berharap adanya dukungan modal dari pemerintah daerah setempat. Tidak itu saja promosi yang berkelanjutan pun dipermudah perizinannya baik lewat koran lokal Jawa Timur dan koran nasional. ” Wah….kalau urusan promosi pun jangan takut Bu Arty…blog sehat dengan kundalini reiki ini pun menjadi ajang promosi gratis bagi usaha Anda.”

Jumat, 03 September 2010

BATIK GRESIK


Nama : Azizah Ardyanti Putri

Kelas : X-1

No. Abs : 07


KEUNIKAN GAGASAN :

Batik tulis di Jalan Magetan, kompleks Perumahan Gresik Kota Baru (GKB), Sabtu (17/7) penuh sesak. Ratusan siswa baru yang menjalani masa orientasi siswa (MOS) maupun para senior di SMP Muhammadiyah 4 Giri antusias mendengarkan celoteh Siti Zunaiyah.
KETERANGAN :

SANGGAR batik tulis di Jalan Magetan, kompleks Perumahan Gresik Kota Baru (GKB), Sabtu (17/7) penuh sesak. Ratusan siswa baru yang menjalani masa orientasi siswa (MOS) maupun para senior di SMP Muhammadiyah 4 Giri antusias mendengarkan celoteh Siti Zunaiyah.

Perempuan 48 tahun asal Kediri itu begitu telaten membimbing siswa dalam membatik. Mulai desain, sketsa, hingga membatik. "Wah, adik ini kayaknya punya bakat. Tangannya sangat lincah," puji istri Bambang Israwan itu kepada Intan, salah seorang siswa SMP Muhammadiyah 4 Giri.

Sanggar batik Zunaiyah kini tidak pernah sepi dari kunjungan masyarakat maupun siswa. Sanggar itu mulai dikenal sejak batik dulit sisik bandeng yang dia ciptakan ditetapkan sebagai ikon Gresik dan dijadikan seragam resmi PNS. "Ada yang datang cuma melihat cara membatik. Ada juga yang memesan," katanya.

Zunaiyah menuturkan, dirinya perlu waktu tiga tahun merenung sebelum menemukan batik dulit sisik bandeng itu. Tekadnya tersebut muncul karena ketertarikan dan kecintaannya pada Gresik, meski dia bukan warga asli kota itu.

Hampir semua buku tentang Gresik dipelajari. Ide itu akhirnya muncul setelah mengamati para petambak ikan bandeng di Gresik. "Saya keliling ke sejumlah kabupaten. Ternyata, belum ada yang membuat batik sisik bandeng," ujarnya.

Setelah menemukan ide sisik bandeng, perempuan berjilbab itu tidak langsung memproduksinya. Sebab, dia masih harus menyesuaikan corak dan warna kesukaan masyarakat Kota Santri tersebut.

Insting Zunaiyah memutuskan untuk menggunakan warna dominan hijau dipadu hitam. "Kalau Madura lebih cenderung warna merah, di sini (Gresik, Red) ternyata lebih menyukai hijau," kata alumnus sebuah sekolah desain di Surabaya itu.

Awal Januari 2010, batik dulit sisik bandeng mulai diperkenalkan di kalangan terbatas lingkungan Sekretariat Kabupaten (Setkab) Gresik. Sejak saat itulah, batik dulit sisik bandeng mulai dijadikan pakaian "wajib" para PNS. "Kalau biasanya pakaian swadesi batik hari Jumat. Sekarang karena ada sisik bandeng, digunakan dua hari mulai Kamis," ujar Bupati Gresik Robbach Ma'sum.

Sejak saat itulah, Sanggar Batik Dulit Sisik Bandeng milik Siti Zunaiyah tidak pernah sepi. Para pimpinan SKPD (satuan kerja perangkat daerah) di lingkungan Pemkab Gresik memesan pakaian khas Gresik tersebut. "Batik dulit sisik bandeng telah didaftaran ke HaKI (hak atas kekayaan intelektual)," jelas Zunaiyah.

Untuk memenuhi pesanan itu, Zunaiyah tidak sendirian. Perempuan yang pernah belajar membatik di Tanjung Bumi, Madura, dan Jember itu belajar di Pekalongan. Untuk proses produksi, dia dibantu tujuh orang. Ada yang bagian cat, celup, dan nembok (ngeblok warna dengan lilin). "Saya hanya bagian mensket desain," ungkapnya.

Damar kurung





Nama : Ully Fitri

No : 30

Kelas : X-2


DAMAR KURUNG, WARISAN BUDAYA KOTA GRESIK



KEUNIKAN TEKNIK


Karya seni lukis lampion dengan design unik, berkarakter polos kekanak-kanakan, berhias warna terang kuning, merah, hijau, dan merah jambu pada Damar Kurung.


KEUNIKAN GAGASAN


Dulu, kerajinan Damar Kurung dibuat untuk menghibur dan memberikan kesenangan kepada anak-anak yang tengah menanti datangnya shalat Tarawih pada bulan Ramadhan. Itulah sebabnya tema lukisan pada kertas Damar Kurung di masa lalu umumnya berkisah soal kegiatan orang melaksanakan shalat tarawih, tadarus, suasana Idul Fitri, halal bil halal, macapat, pasar malam, pesta khitanan, dan sebagainya.

Namun, seiring waktu,perubahan dalam penampilan mulai dari bahan dasar hingga tema-tema kekinian tanpa meninggalkan tema lama bersifat religi. Biasanya mengangkat tema tentang kehidupan nelayan, pesta perkawinan, kehidupan etnis Madura, serta permainan tradisional anak-anak seperti menangkap ikan, menjaring burung. Gayanya penuh keceriaan, penuh warna dan penuh bentuk. Hampir tak ada ruang kosong di sana. Di masing-masing bidang itu, figur-figur manusia berjajar berbagi tempat dengan pepohonan, mobil, burung, serta atap-atap tenda dan rumah. Penempatan gambar yang berderet semacam ini memang menjadi ciri khas Damar Kurung.


KETERANGAN


Sebagai lampion, Damar Kurung akan merefleksikan gambar-gambar tadi secara menarik apalagi saat lampu dalam lampion itu dinyalakan. Gambar akan terlihat bercahaya dan memberikan efek menarik seperti halnya wayang yang juga memainkan gambar di balik layar dan cahaya.

Cara membagi bidang gambar juga memperlihatkan bagaimana ia menganggap lukisannya semacam media bercerita. Bagian atas akan bersambung dengan bagian di bawahnya. Kadang ia membaginya menjadi tiga bidang. Namun, tak menutup kemungkinan ia melukis tanpa pembagian bidang.

Lampion Damar Kurungnya ada yang terbuat dari mika dengan tulang kayu, bukan lagi kertas dan bambu sebagaimana dulu pernah memanfaatkan kertas minyak dengan pewarna dari sumbo. Lukisan (gaya) Damar Kurung juga sudah dikemas seperti lukisan pada umumnya, mempergunakan kanvas dan cat minyak, yang dibingkai dengan kayu bujur sangkar.Gaya Damar Kurung mempunyai tema-tema yang tiap orang mesti memiliki kekhasan sendiri-sendiri.