Tampilkan postingan dengan label tugas ke 1 - X-2. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tugas ke 1 - X-2. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Oktober 2010

Gerabah kasongan

M.Naufal majdi
x-2
20
Turun-temurun, Dari Perkakas Rumah Tangga Hingga Keramik Hias


MEMASUKI kampung Kasongan, di halaman-halaman rumah dan pekarangan warga dengan mudah akan terlihat gerabah berbagai bentuk dan ukuran. Baik yang masih alami berwarna merah bata, ataupun yang telah dilakukan finishing dengan pengecatan beraneka warna atau teknik finishing lain. Di sudut-sudut kampung akan terlihat pula tungku-tungku pembakaran. Jika tertarik, wisatawan dapat pula turut membentuk tanah liat menjadi gerabah bersama para perajin.

Desa Wisata Kasongan terletak di Dukuh Kajen, Banguntapan, Kasihan, Bantul Yogyakarta. Di dukuh seluas 49 hektar berpenduduk 1.556 jiwa tersebut, 95% warganya bermata pencaharian sebagai perajin gerabah, sedangkan sisanya petani dan PNS. Pembuatan gerabah di Kasongan memang telah diwariskan secara turun temurun dari generasi terdahulu hingga kini.

-berawal dari perkakas rumah tangga-
Pada awal mulanya, gerabah yang diproduksi warga Kasongan hanya berupa perkakas rumah tangga seperti kwali, cobek, anglo, keren (tungku untuk memasak dengan kayu bakar), dan perkakas lain. Namun setelah dikembangkan sebagai desa wisata, variasi produk gerabah pun berkembang hingga ke gerabah-gerabah hias seperti guci, berbagai patung, meja kursi, dan berbagai hiasan lain.

“Kerajinan gerabah telah turun-temurun digeluti warga. Kemudian mulai berkembang setelah ada arahan dari para tokoh seniman seperti masalah desainnya,” kata Kepala Dukuh Kajen, Muh. Hadi Suprojo.

Buang Mudiarjo misalnya, perajin gerabah yang telah memulai usahanya sejak 1965 mengaku belajar menjadi perajin gerabah dari orangtuanya. Gerabah yang dihasilkannya mulai dari perkakas rumah tangga hingga gerabah hiasan. “Yang paling diminati wisatawan seperti guci, loro blonyo (patung pengantin), dan patung Budha. Harga gerabah berkisar Rp 5 ribu - 500 ribu,” ungkap ayah empat orang anak tersebut. Kerajinan gerabah di Kasongan mulai berkembang setelah dibangunya jembatan di sisi timur kampung pada 1972, sehingga bisa menghubungkan ke kota Bantul dan daerah lain. “Sebelum tahun 72 susah karena belum ada jembatan. Untuk menjual gerabah harus menyeberang sungai. Dulu hanya dijual di pasar-pasar tradisional sekitar,” kenang lelaki kelahiran 55 tahun lalu itu.

Kini, Buang memasarkan 85% gerabahnya hingga ke mancanegara seperti Belanda, Thailand, dan Venezuela. “Mulai ekspor sejak tahun 1990. Awalnya menawarkan ke turis-turis yang berkunjung ke sini, kemudian mereka mulai memesan,” papar lelaki yang menekuni kerajinan keramik bersama puteranya tersebut. Sementara untuk pasar dalam negeri antara lain Jakarta, Surabaya, Semarang, dan Bali.
Bahan baku tanah liat, didapat Buang, dari Kasongan, Godean, Kebumen, dan Imogiri.

-koperasi untuk pengembangan-
Untuk pengembangan Gerabah di Kasongan, para perajin dan pengusaha membentuk wadah berupa koperasi yang beranggotakan 581 perajin/pengusaha. Wadah yang bernama Kopersi Industri Seni Kerajinan Keramik (Kopinkra) Setya Bawana tersebut terbentuk pada 10 Agustus 2006. Sebenarnya cikal bakal dari koperasi telah ada sejak 1984 berupa kelompok campur sari Setya Bawana. Kelompok tersebut ternyata mendapatkan pesanan membuat gerabah dari turis, hingga kemudian terbentuklah sebuah koperasai. Meski keberadaannya telah lama, namun koperasi baru didaftarkan menjadi berbadan hukum pada 2006. “Ada turis yang memesan gerabah pada kelompok campur sari Setya Bawana. Kemudian terbentuklah koperasi, dan baru didaftarkan berbadan hukum setelah gempa 2006,” ungkap pengurus harian koperasi Setia Bawana, Made Supardi.

Selain fungsi teknis penguatan modal bagi anggota, berupa pijaman berbunga rendah, koperasi juga berperan dalam pengembangan sentra gerabah Kasongan. “Setiap tanggal 15 ada pertemuan pengurus inti untuk membicarakan perkembangan sentra gerabah Kasongan dan bagaimana langkah-langkah ke depan,” kata Made. Sedangkan pelatihan-pelatihan dan pembinaan bagi para perajin dilakukan oleh pemerintah daerah setempat seperti pelatihan manajemen, ekspor, ataupun finishing produk gerabah.

Peran pemerintah desa sendiri lebih pada penataan pokdarwis (kelompok sadar wisata), memberikan arahan, serta menampung keluhan mengenai kesulitan-kesulitan yang dihadapi termasuk masalah permodalan. Beberapa permasalahan yang disampaikan warga Kasongan, kata Hadi Suprojo, antara lain agar pemerintah ataupun perbankan mempermudah akses permodalan untuk pengembangan usaha.

-bangkit pasca gempa-
Sedangkan untuk mengenalkan Kasongan kepada masyarakat luas, disadari promosi perlu terus dilakukan antara lain melalui pameran-pameran. “Jangan sampai Kasongan menjadi tertutup atau hilang akibat gempa 2006 lalu. Sekarang sudah mulai bangkit dan nampak lagi,” ungkap Kepala Dukuh yang juga menjadi perajin gerabah sejak 1989 tersebut.

Sejak bencana gempa bumi 2006, disamping jumlah kunjungan wisatawan ke Kasongan menurun drastis, warga pun harus memulai usaha dari awal karena perlu pemulihan rumah, tungku pembakaran gerabah, ataupun peralatan penunjang lainnya. “Perlu waktu untuk pulih kembali. Padahal dulu Kasongan sudah mulai artistik, banyak dikunjungi wisatawan. Namun akibat gempa, banyak yang rusak seperti gapura-gapura roboh,” papar Nangsib, sapaan akrab Hadi.

Pengembangan Kasongan sebagai desa wisata dilakukan pula dengan menerima ide-ide dari warga masyarakat. Untuk mendukung Kasongan sebagai desa wisata, warga menginginkan dibangunnya monumen Kasongan. Saat ini telah tersedia lahan seluas 1.600 meter persegi yang semula merupakan tanah milik pemerintah propinsi DIY, dan telah diserahkan ke Pemda Bantul. “Masukan dari warga, menginginkan dibangunnya Monumen Kasongan. Walaupun belum ada kepastian kapan bisa terwujud,” tambahnya.

Meski mayoritas warga menekuni kerajinan gerabah, namun tidak terjadi persaingan yang tidak sehat. Kerukunan antar warga pun masih terjaga dengan baik. Persaingan lebih pada kualitas produk. “Kehidupan sosial antar tetangga, kerukunannya masih bagus. Selalu gotong-royong karena kita tidak bisa hidup sendiri,” pungkas Buang Mudiarjo disela kegiatannya bersama warga yang lain. -cahpesisiran-
dari http://pesisiran-kidul.blogspot.com/2008/07/gerabah-kasongan.html

DAMARKURUNG




Hanifah (X-2/12)

Apa yang disebut damar kurung adalah semacam lampion (damar=lampu) berbentuk kotak persegi dari kertas dengan tulang-tulang bambu, ada lampu di tengahnya. Pada sisi-sisi damar kurung itulah Masmundari melukis dengan nuansa yang khas ramadan. Tradisi damar kurung ini memang lekat dengan ramadan, yakni setiap menjelang ramadan ada tradisi menjual damar kurung di Gresik. Hanya sayangnya, tradisi itu kemudian nyaris punah karena tak ada lagi yang melukis damar kurung, kecuali Masmundari satu-satunya.

Dalam pandangan seni rupa, lukisan-lukisan nenek ini sedemikian unik. Ada yang menyebut bergaya naif, kekanak-kanakan, dan dia melukis seperti meluncur begitu saja. Maka seorang perupa asal Gresik, Imang AW tertarik untuk mengangkatnya dalam khasanah lukisan pada umumnya. Masmundari diminta melukis dengan bahan dan alat melukis yang lebih bagus, melukis di atas selembar kertas, kemudian dibingkai sebagaimana lukisan pada umumnya. Maka jadilah lukisan gaya Masmundari yang menarik banyak kalangan dalam pameran di Jakarta dan hotel-hotel besar serta mendapat perhatian dari petinggi negeri termasuk Presiden RI.

Damar kurung dan Masmundari lantas jadi asset berharga bagi Gresik, dia diundang kemana-mana, pameran dalam berbagai kesempatan, meski ada saja yang tega memperlakukan tidak semestinya. Pemerintah Kabupaten Gresik menjadikan damar kurung sebagai maskot kota, membuat tiruan damar kurung ukuran besar untuk lampu dan monumen kota, anak-anak pun digerakkan melukis gaya damar kurung, hingga akhirnya damar kurung identik menjadi ciri khas kota Gresik. Lagi-lagi, ada juga yang menjadikan Masmundari sebagai pijakan untuk cari keuntungan, mereka hanya butuh master lukisannya, kemudian digandakan berlipat tanpa imbalan apa-apa buat nenek yang masih sehat ini.

Tinggal di kampung Jl.Gubernur Suryo VIII no 41.B Gresik, Masmundari hanya memiliki satu anak, satu cucu, masih terus melukis hingga sekarang. Lampion damar kurungnya ada yang terbuat dari fiber dengan tulang kayu, bukan lagi kertas dan bambu. Termasuk juga lukisan (gaya) damar kurung yang sudah dikemas seperti lukisan pada umumnya. Sayang, di rumahnya tak terlihat sisa-sisa lukisan damar kurung hasil karyanya. Dia sibuk melayani pesanan.



Jumat, 24 September 2010

DAMAR KURUNG


NAMA :MARO'ATUL CHOIRIYAH
KELAS :X-2
NO.ABS :17

DAMAR KURUNG

Apa yang disebut damar kurung adalah semacam lampion (damar=lampu) berbentuk kotak persegi dari kertas dengan tulang-tulang bambu, ada lampu di tengahnya.

KEUNIKAN GAGASAN

Pada sisi-sisi damar kurung itulah Masmundari melukis dengan nuansa yang khas ramadan. Tradisi damar kurung ini memang lekat dengan ramadan, yakni setiap menjelang ramadan ada tradisi menjual damar kurung di Gresik. Hanya sayangnya, tradisi itu kemudian nyaris punah karena tak ada lagi yang melukis damar kurung, kecuali Masmundari satu-satunya.

KEUNIKAN TEKHNIK

Dalam pandangan seni rupa, lukisan-lukisan nenek ini sedemikian unik. Ada yang menyebut bergaya naif, kekanak-kanakan, dan dia melukis seperti meluncur begitu saja. Maka seorang perupa asal Gresik, Imang AW tertarik untuk mengangkatnya dalam khasanah lukisan pada umumnya. Masmundari diminta melukis dengan bahan dan alat melukis yang lebih bagus, melukis di atas selembar kertas, kemudian dibingkai sebagaimana lukisan pada umumnya. Maka jadilah lukisan gaya Masmundari yang menarik banyak kalangan dalam pameran di Jakarta dan hotel-hotel besar serta mendapat perhatian dari petinggi negeri termasuk Presiden RI.




Jumat, 03 September 2010

Damar kurung





Nama : Ully Fitri

No : 30

Kelas : X-2


DAMAR KURUNG, WARISAN BUDAYA KOTA GRESIK



KEUNIKAN TEKNIK


Karya seni lukis lampion dengan design unik, berkarakter polos kekanak-kanakan, berhias warna terang kuning, merah, hijau, dan merah jambu pada Damar Kurung.


KEUNIKAN GAGASAN


Dulu, kerajinan Damar Kurung dibuat untuk menghibur dan memberikan kesenangan kepada anak-anak yang tengah menanti datangnya shalat Tarawih pada bulan Ramadhan. Itulah sebabnya tema lukisan pada kertas Damar Kurung di masa lalu umumnya berkisah soal kegiatan orang melaksanakan shalat tarawih, tadarus, suasana Idul Fitri, halal bil halal, macapat, pasar malam, pesta khitanan, dan sebagainya.

Namun, seiring waktu,perubahan dalam penampilan mulai dari bahan dasar hingga tema-tema kekinian tanpa meninggalkan tema lama bersifat religi. Biasanya mengangkat tema tentang kehidupan nelayan, pesta perkawinan, kehidupan etnis Madura, serta permainan tradisional anak-anak seperti menangkap ikan, menjaring burung. Gayanya penuh keceriaan, penuh warna dan penuh bentuk. Hampir tak ada ruang kosong di sana. Di masing-masing bidang itu, figur-figur manusia berjajar berbagi tempat dengan pepohonan, mobil, burung, serta atap-atap tenda dan rumah. Penempatan gambar yang berderet semacam ini memang menjadi ciri khas Damar Kurung.


KETERANGAN


Sebagai lampion, Damar Kurung akan merefleksikan gambar-gambar tadi secara menarik apalagi saat lampu dalam lampion itu dinyalakan. Gambar akan terlihat bercahaya dan memberikan efek menarik seperti halnya wayang yang juga memainkan gambar di balik layar dan cahaya.

Cara membagi bidang gambar juga memperlihatkan bagaimana ia menganggap lukisannya semacam media bercerita. Bagian atas akan bersambung dengan bagian di bawahnya. Kadang ia membaginya menjadi tiga bidang. Namun, tak menutup kemungkinan ia melukis tanpa pembagian bidang.

Lampion Damar Kurungnya ada yang terbuat dari mika dengan tulang kayu, bukan lagi kertas dan bambu sebagaimana dulu pernah memanfaatkan kertas minyak dengan pewarna dari sumbo. Lukisan (gaya) Damar Kurung juga sudah dikemas seperti lukisan pada umumnya, mempergunakan kanvas dan cat minyak, yang dibingkai dengan kayu bujur sangkar.Gaya Damar Kurung mempunyai tema-tema yang tiap orang mesti memiliki kekhasan sendiri-sendiri.

Jumat, 27 Agustus 2010

SONGKOK KHAS BUNGAH GRESIK


NAMA : NAUFAL AFIF AZFAR
KELAS : x-2
NO ABS : 23










KEUNIKAN GAGASAN :
BERDAGANG
Pada tahun 30 Hijjriyah atau 651 Masehi, hanya berselang sekitar 20 tahun dari wafatnya Rasulullah SAW, Khalifah Utsman ibn Affan RA mengirim delegasi ke Cina untuk memperkenalkan Daulah Islam yang belum lama berdiri.
Dalam perjalanan yang memakan waktu empat tahun ini, para utusan Utsman ternyata sempat singgah di Kepulauan Nusantara. Beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 674 M, Dinasti Umayyah telah mendirikan pangkalan dagang di pantai barat Sumatera. Inilah perkenalan pertama penduduk Indonesia dengan Islam. Sejak itu para pelaut dan pedagang Muslim terus berdatangan, abad demi abad. Mereka membeli hasil bumi dari negeri nan hijau ini sambil berdakwah.
Lambat laun penduduk pribumi mulai memeluk Islam meskipun belum secara besar-besaran. Aceh, daerah paling barat dari Kepulauan Nusantara, adalah yang pertama sekali menerima agama Islam. Bahkan di Acehlah kerajaan Islam pertama di Indonesia berdiri, yakni Pasai. Berita dari Marcopolo menyebutkan bahwa pada saat persinggahannya di Pasai tahun 692 H / 1292 M, telah banyak orang Arab yang menyebarkan Islam. Begitu pula berita dari Ibnu Battuthah, pengembara Muslim dari Maghribi., yang ketika singgah di Aceh tahun 746 H / 1345 M menuliskan bahwa di Aceh telah tersebar mazhab Syafi'i. Adapun peninggalan tertua dari kaum Muslimin yang ditemukan di Indonesia terdapat di Gresik, Jawa Timur. Berupa komplek makam Islam, yang salah satu diantaranya adalah makam seorang Muslimah bernama Fathimah binti Maimun. Pada makamnya tertulis angka tahun 475 H / 1082 M, yaitu pada jaman Kerajaan Singasari. Diperkirakan makam-makam ini bukan dari penduduk asli, melainkan makam para pedagang Arab.

Maka dari itu sejak dulu berdagang merupakan warisan turun-temurun masyarakat GRESIK dalam memenuhi kehidupan sehari-hari.
KEUNIKAN TEKNIK :

Proses pembuatannya meliputi tahap mengemal ukuran songkok pada bahan kain beludru, dilanjutkan penjahitan, baru pelukisan di sepanjang permukaan sisi luar songkok langsung.

Yang unik, cara melukisnya tidak menggunakan kuas, melainkan cat langsung dipencet dari wadah plastik yang dilubangi bagian sudutnya untuk mengeluarkan cat, mirip koki menghias kue tart.

Pemasaran songkok lukis menyebar ke seluruh Indonesia dengan harga per buah paling murah Rp 30 ribu, berkisar hingga Rp 80 ribu.(arm/ril)


KETERANGAN :

BUNGAH (beritagresik.com) — Sejak lama Gresik dikenal sebagai pusatnya kerajinan songkok nasional. Sayang,hingga kini Pemkab tidak pernah berani mengangkat ikon tersebut sebagai identitas resmi Kabupaten Gresik.

Songkok buatan Gresik

Padahal, kalau ditelusuri, songkok yang digunakan Presiden SBY dan menteri-menterinya, hampir pasti buatan Gresik. Kejayaan songkok asal Gresik juga telah berkibar di sejumlah negara lewat pasar ekspor.

Terlepas dari minimnya kepedulian dan penghargaan pemerintah setempat, para perajin songkok di Desa Bungah, Kecamatan Bungah tetap giat berkarya. Tak heran dengan usaha pembuatan songkok, perekonomian mereka cukup terangkat.

Pangsa pasar songkok tetap terbuka lebar baik di dalam negeri atau bahkan ekspor sekalipun. Apalagi bagi para perajin yang kreatif dan inovatif, mereka bisa meningkatkan omset penjualan.

Seyampang Ramadan dan Lebaran Idul Fitri sudah dekat, omzet mereka bahkan meningkat hampir 100 persen dari bulan-bulan sebelumnya. Seperti dituturkan Rafiudin, perajin muda yang mewarisi keterampilan membuat songkok turun temurun dari keluarganya.

Dia mengaku, pada bulan di luar Ramadan melayani pesanan sekitar 100 kodi (1 kodi=20 buah unit, Red) , pada bulan Ramadan mencapai 180-200 kodi. Permintaan pasar tambah meningkat sejak ‘’besali’’ (bengkel kerja, Red) miliknya mengeluarkan kreasi songkok lukis.

Songkok lukis merupakan pengembangan pembuatan songkok konvensional, tetapi ditambah lukisan cat sintetis dari bahan yang dipesan khusus. Keistimewaannya, warna yang ditampilkan tidak cepat pudar sekaligus tidak luntur dan bertekstur timbul.

Semakin eksklusif karena dibuat secara handmade atau dilukis langsung menggunakan tangan perajin yang punya cita rasa seni tinggi.

‘’Dilukis langsung oleh kami dengan motif-motif khas ornament tumbuhan ataupun geometris Islami,’’ jelas Arif, salah seorang pelukis songkok, kepada BeGres.com, Jumat (20/08/2010).



Batik Sisik Bandeng


Nama :RENDI HERNAWAN
Kelas :X2
No :28



KEUNIKAN GAGASAN
:


Meski gempuran produk-produk batik dari negara asing mulai membanjiri pasar dalam negeri, tetapi Arty israwan, pantang menyerah dan terus melakukan inovasi produk-produknya.
Berkat ketekunan dan semangat kerjanya, produk batik buatannya, justeru semakin bersinar dan mulai banyak diminati warga. Batik dulit sisik bandeng dan mahkota giri, merupakan salah satu produk batik unggulan, karya tangan terampilnya, yang kini mulai disuka warga. Menurut Arty, selain mempertahankan nuansa lokal tradisional, dirinya juga tidak menggunakan bahan-bahan kimia sebagai pewarna produknya. Tetapi, menggunakan bahan-bahan alamiah, diantaranya daun jati, daun sirih, daun kenikir, daun jambu, dan tanaman lain yang banyak tumbuh di lingkungan sekitar rumah warga. Terobosan ini, sengaja dilakukan agar kualitas produknya makin terjaga. Dengan bahan alamiah ini, produk batik buatanya, tidak membuat alergi, dan nyaman dipakai setiap orang. “Saya gunakan daun daun alami sebagai pewarnanya, untuk mempertahankan kesan alami", ujarnya. Dengan mengandalkan bahan dan motif lokak itulah, batk dulit milik arty semakin di suka pelanggannya karena mampu membangkitkan rasa percaya diri. Ita rahmawati, salah satu konsumen batik misalnya, mengatakan, sangat menyukai batik sisik bandeng, karena dingin dipakai, dan corak warnanya identik dengan warga Gresik, sebagai penghasil bandeng. “Batik ini menambah rasa percaya diri saya”, ungkapnya. Sama dengan produk batik lainnya,

CARA PEMBUATAN:


pembuatan batik dulit sisik bandeng diawali dengan pembuatan desain, dan dilanjutkan dengan proses canting.

Setelah itu, dilanjutkan dengan proses dulit, yakni pewarnaan melalui olesan yang dilanjutkan dengan proses nembok, menggunakan malam, untuk menutup warna.

Selanjutnya, kain direbus untuk menghilangkan malam, dan dilanjutkan dengan pewarnaan, yang memanfaatkan menggunakan bahan baku alamiah, yakni daun-daun tanaman, yang memiliki pewarna alami, diantaranya daun sirih, yang banyak tumbuh di sekitar pekarangan.
Sedangkan, produk batik dulit khas Gresik ini dijual dengan harga bervariatif mulai dari 150 ribu sampai dengan satu setengah juta rupiah, tergantung kualitas kainnya.


KERAJINAN BATU ONYX

JENIS PRODUK : KERAJINAN BATU ONYX
naufal afif azfar -X2- 23
Gambar:

Keterangan :
Kerajinan batu onyx merupakan kerajinan khas masyarakat Bawean Gresik. apalagi bawean merupakan salah satu daerah penghasil jenis bebatuan artistik ini. selain bentuk fisiknya yang menjadi salah satu anugerah alam, hasil kerajinan yang dihasilkan juga mempunyai ciri khas tersendiri, baik itu yang berupa meja, kursi, asbak, toples, vas bunga dan lainnya. bahkan pangsa pasarnya sampai ke negara Thailand dan malaysia, selain juga dipasarkan di dalam negeri seperti Gresik, Surabaya, Tulungagung, Solo, Batam, dan Jakarta

Salah satu pengrajin batu onyx adalah

Cv. Estona Onyx Bawean milik H. Abd Rahman Rasyid yang beralamat di Jl. Kawedanan 01. Sawahmulya Kec. Sangkapura Gresik. Phone. 0325.421058

JENIS PRODUK : KERAJINAN TIKAR PANDAN

Gambar:

Keterangan :
Kerajinan tikar pandan merupakan salah satu kerajinan khas yang dimiliki oleh masyarakat Bawean. Kerajinan ini merupakan kerajinan turun temurun dan dalam satu keluarga dapat menghasilkan 1 hingga 2 unit, bentuknya yang sangat indah dengan beberapa mode, antara lain; Coraktoan, Daniris, Palikat, Gambir, Berastumpah, Seksekbenggi, Mata Itik, Mata Lembuh, Mata-mata, Polosan, Buluayam, Kolarasasebak, Sonket, Okel-okel dan Petisusun dengan beberapa bentuk barang yang dihasilkan antara lain Kerajinan pigura, Vas Bunga, Taplak Meja, dan lainnya. Selain dipasarkan di Gresik, Surabaya, Solo dan Jakarta, kerajinan ini juga menembus pasar Eksport seperti negara Malaysia dan Singapura