Tampilkan postingan dengan label tugas ke 1 - X-3. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tugas ke 1 - X-3. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 November 2010

DAMAR KURUNG, WARISAN BUDAYA KOTA GRESIK




KEUNIKAN TEKNIK



Apa yang disebut damar (damar=lampu) kurung adalah semacam karya seni lukis lampion dengan desain unik berbentuk kotak persegi dari kertas dengan tulang-tulang bambu, berhias warna terang kuning, merah, hijau, dan merah jambu dari lampu yang dipasang di tengahnya. Sebagai lampion, Damar urung akan merefleksikan gambar-gambar tadi secara menarik apalagi saat lampu dalam lampion itu dinyalakan. Gambar akan terlihat bercahaya dan memberikan efek menarik seperti halnya wayang yang juga memainkan gambar di balik layar dan cahaya.


KEUNIKAN GAGASAN


Nama:M.bukhori rofiq
no:17
kelas:X3

Dulu, kerajinan Damar Kurung dibuat untuk menghibur dan memberikan kesenangan kepada anak-anak yang tengah menanti datangnya shalat Tarawih pada bulan Ramadhan. Itulah sebabnya tema lukisan pada kertas Damar Kurung di masa lalu umumnya berkisah soal kegiatan orang melaksanakan shalat tarawih, tadarus, suasana Idul Fitri, halal bil halal, macapat, pasar malam, pesta khitanan, dan sebagainya.


Namun, seiring waktu,perubahan dalam penampilan mulai dari bahan dasar hingga tema-tema kekinian tanpa meninggalkan tema lama bersifat religi. Biasanya mengangkat tema tentang kehidupan nelayan, pesta pernikahan, kehidupan etnis Madura, serta permainan tradisional anak-anak seperti menangkap ikan, menjaring burung. Gayanya penuh keceriaan, penuh warna dan penuh bentuk. Hampir tak ada ruang kosong di sana. Di masing-masing bidang itu, figur-figur manusia berjajar berbagi tempat dengan pepohonan, mobil, burung, serta atap-atap tenda dan rumah. Penempatan gambar yang berderet semacam ini memang menjadi ciri khas Damar Kurung.


Quote:
MASMUNDARI (Pelukis Damar Kurung)


Tinggal di kampung Jl.Gubernur Suryo VIII no 41.B Gresik, Masmundari hanya memiliki satu anak, satu cucu, masih terus melukis hingga sekarang. Lampion damar kurungnya ada yang terbuat dari fiber dengan tulang kayu, bukan lagi kertas dan bambu. Termasuk juga lukisan (gaya) damar kurung yang sudah dikemas seperti lukisan pada umumnya.

Dalam pandangan seni rupa, lukisan-lukisan nenek ini sedemikian unik. Ada yang menyebut bergaya naif, kekanak-kanakan, dan dia melukis seperti meluncur begitu saja. Maka seorang perupa asal Gresik, Imang AW tertarik untuk mengangkatnya dalam khasanah lukisan pada umumnya. Masmundari diminta melukis dengan bahan dan alat melukis yang lebih bagus, melukis di atas selembar kertas, kemudian dibingkai sebagaimana lukisan pada umumnya. Maka jadilah lukisan gaya Masmundari yang menarik banyak kalangan dalam pameran di Jakarta dan hotel-hotel besar serta mendapat perhatian dari petinggi negeri termasuk Presiden RI.

Damar kurung dan Masmundari lantas jadi asset berharga bagi Gresik, dia diundang kemana-mana, pameran dalam berbagai kesempatan, meski ada saja yang tega memperlakukan tidak semestinya. Pemerintah Kabupaten Gresik menjadikan damar kurung sebagai maskot kota, membuat tiruan damar kurung ukuran besar untuk lampu dan monumen kota, anak-anak pun digerakkan melukis gaya damar kurung, hingga akhirnya damar kurung identik menjadi ciri khas kota Gresik.

Sabtu, 25 September 2010

songkok pengrajin dari gresik


songkok gresik

nabila asad
x-3 (18)

**KEUNIKAN GAGASAN**
songkok adalah suatu ciri khas dari kota gresik, yang digunakan oleh setiap orang untuk bersembahyang
Cara pemakaiannya juga lebih meluas,bersesuai pengguna dari alangan anak-anak hingga dewasa.

**KETERANGAN**
Bagi perajin songkok atau kopiah di Kabupaten Gresik, Jawa Timur, bulan suci Ramadhan merupakan masa "panen."

Salah satunya adalah perajin songkok rumahan "Awing" di Kelurahan Blandongan, Kecamatan Kota Gresik.

Bahkan, perajin setempat mendapatkan berkah (barokah/nilai tambah) sejak tiga bulan menjelang Ramadhan 1431 Hijriah.

**KEUNIKAN TEKNIK**
Mencelup benang

Benang perlu dibersihkan sebelum dicelup ke dalam pewarna. Setelah pewarnaan dibuat benang perlu di keringkan, sebelum kerja selanjutnya dilaksanakan.
Melerai benang

Pelenting yang diperbuat daripada buluh kecil digunakan untuk melilit benang. Proses ini dilakukan dengan bantuan alat darwin dan alat pemutar rahat.
Menganeng benang

Proses membuat benang loseng yang diregang di alat penenun bagi menentukan saiz panjang atau jumlah helai kain yang akan ditenun.
Menggulung

Benang-benang yang diregang di alat menganeng (ianian) digulung dengan sekeping papan loseng
Menyapuk benang

Setelah benang loseng dimasukkan ke dalam gigi atau sikat jentera, kerja-kerja menyapuk dilakukan. Dua urat benang loseng dikaitkan melalui setiap celah gigi jentera.
Mengarak benang

Karak dibuat daripada benang asing yang digelung. Benang loseng berangka genap dan ganjil akan diangkat turun naik secara berselang seli sewaktu menenun.
Menyongket benang

Proses mereka corak di atas benang loseng dengan menggunakan alat yang di panggil lidi dengan menyongketkan benang loseng sebanyak tiga atau lima lembar dan kemudian diikat dan dikenali sebagai proses ikat butang.
Menenun

Alat torak yang diisi dengan benang pakan atau benang emas, dimasukkan ke kiri dan kanan di celah-celah benang loseng mengikut corak yang telah ditentukan hinggalah menjadi sekeping kain. Kain yang telah siap ini dipotong mengikut saiz.

Songkok gresik









NURVIKA MIRA EKA LESTARI
X-3 (22)

SONGKOK GRESIK

-Setiap bulan Suci Ramadhan tiba selalu membawa berkah bagi perajin songkok, termasuk pengrajin songkok rumahan Awing di Kelurahan Blandongan Kecamatan Kota Gresik, Jawa Timur, yang saat ini sedang kebajiran order (pesanan). Dalam tiga bulan ini 30 ribu songkok yang berhasil diproduksi oleh Awing sudah ludes terjual atau sudah diambil pemesan.

Menurut bagian penjualan produksi songkok Awing, Benny Wahidin mengatakan, pemesan songkok Awing lebih banyak dari daerah Jawa Barat. Dari 30 ribu songkok yang sudah terjual menjelang Ramadhan tahun ini sebanyak 20 ribu beredar di Jawa Barat.

"Sebenarnya produksi kita beredar ke seluruh Indonesia dan bahkan ke luar negeri. Seperti Singapura, Malaysia, dan Brunai Darussalam. Tetapi memang pasar kita terbanyak berada di Jawa Barat dan Jakarta. Ramadhan tahun ini ada sekitar 20 ribu songkok yang sudah beradar di Jakarta," kata Benny Wahidin, Jumat (27/8). Bulan Ramadhan ini, Awing masih melakukan produksi hingga mendekati Hari Raya nanti dengan target produksi 15 ribu songkok, sesuai dengan pesanan yang masuk.

Awing menjual hasil produksinya dengan harga bervariasi, mulai harga termahal Rp 115 ribu hingga paling murah Rp 20 ribu. Memasuki Ramadhan tahun ini Awing sudah mendapatkan omzet sekitar Rp 4 miliar.

"Memang pasar songkok yang paling rame ketika mendekati bulan Ramadhan dan Hari Raya. Mendekati Rp 4 miliar kurang lebih," jelasnya. "Kalau hari-hari biasa songkoknya hanya laku setengah dari penjualan saat memasuki Ramadhan seperti sekarang," tandasnya. Benny menceritakan, Awing berdiri tahun 1986. Home indutry ini, awalnya mengkoordinir beberapa perajin songkok yang ada di Blandongan.

Sebelumnya, songkok yang dihasilkan pengrajin Blandongan kerangka dalamnya berbahan kertas, ini membuat usia songkok tak tahan lama. Berangkat dari pengalaman itu, Awing berusaha berinovasi dengan menggunakan kerangka berbahan kain keras.

Kelebihan mengggunakan kerangka berbahan kain keras ini lebih nyaman dan enak penggunaannya. Tapi, pengrajin di seluruh Indonesia dan tentunya juga di Blandongan tak berani meniru menggunakan kerangka berbahan kain keras kala itu. "Biayanya lebih mahal," jelas Benny.

Tahun 1986 saat itu, tambahnya, harga songkok yang menggunakan kerangka berbahan kertas Rp 3 ribu sedangkan dengan menggunakan bahan kain keras mencapai lima kali lipatnya, Rp 15 ribu. Tapi, Awing tetap optimis, dan hasilnya tak seperti dugaan perajin songkok lainnya, songkok bikinan Awing direspons baik oleh konsumen.

Songkok seharga Rp 15 ribu bikinan Awing itu mampu menarik banyak konsumen. Dan perajin lain pun membuntuti langkah Awing. Perlahan-lahan Awing dikenal oleh banyak konsumen dan perusahaan itu semakin mengembangkan sayapnya. Hingga tahun 1992, Awing membuka cabang di Jakarta dan kewalahan menerima order.

"Pada tahun-tahun itu, almarhum mantan Presiden RI Soeharto pun menggunakan songkok Awing, setiap tiga bulan sekali, ajudan Presiden memesannya langsung," jelas Benny. Dalam perkembangannya, tambah Benny, orang menggunakan songkok tak hanya untuk beribadah, tapi juga untuk kepentingan-kepentingan formal. Awing mampu memproduksi sedikitnya 300 ribu songkok per tahun dengan omzet mencapai Rp 7 miliar setahun.

batik loh bandeng






maulidia fatimah

X-3 (14)



"Loh Bandeng" Ikon Baru Batik Gresik

Gresik (ANTARA News) "Sanggar Rumpaka Mulya" Desa Wringinanom RT 01 RW 03 Kecamatan Wringinanom Kabupaten Gresik, Jawa Timur, menciptakan motif baru ikon batik Gresik "Loh Bandeng"

Motif Loh Bandeng cukup sederhana, tetapi motifnya sangat menari. Ikan bandeng digambarkan dengan sisiknya yang sedikit menonjol berjajar setengah badan.

Kemudian ditutup dengan kreasi gradasi warna, dengan pewarnaan gelap dan terang yang menimbulkan efek tiga dimensi.

"Desain ini sengaja kami ciptakan, agar mudah dibuat dan dipelajari para pengusaha bathik," kata Anang Samsul Arifin pemilik sanggar Rumpaka Mulya dan sekaligus pencetus batik "Loh Bandengan"

Ia menjelaskan, sekarang ada keengganana membatik membutuhkan keterampilan dan kesabaran ekstra. Tapi jika melihat motif Loh Bandeng, paradigma itu akan luntur.

"Kami sengaja menyederhanakan motifnya, sehingga untuk menggairahkan batik yang sudah menjadi seni dan bidaya bangsa Indonesia. Agar menggairahkan Sumber Daya Manusia (SDM) untuk memproduksi batik Loh Bandeng," ujarnya

Arifin memastikan, saat ini ratusan tenaga telah siap untuk memproduksi batik Loh Bandeng. Selama ini di Sanggar Rumpaka Mulya di Desa Wringinanom RT 01 RW 03 Kecamatan Wringinanom Kabupaten Gresik selalu diadakan pelatihan.

Pesertanya beragam, mulai dari buruh pabrik, guru, ibu rumah tangga, dan siswa. Tidak hanya warga dari Gresik yang tertarik belajar Loh Bandeng, ada yang dari Malang, Probolinggo, Tuban, dan Bojonegoro berdatangan mempelajari batik Loh Bandeng.

"Sebelum kami pasarkan secara massal, kami saat ini tengah mempersiapkan tenaga, semakin banyak orang yang bisa membatik Loh Bandeng, motif baru ini akan semakin banyak dikenal di masyarakat, selain itu kita tidak akan kekurangan SDM,? kata pria yang menjadi pencipta busana khas Pasuruan tahun 2003 lalu.

Artinya, selain menciptakan tenaga pembatik, saat ini dia tengah melakukan promosi, baik melalui pelatihan atau pameran-pameran. Semakin banyak orang yang memiliki keterampilan membatik Loh Bandeng menurut Arifin akan semakin meningkatkan nilai jualanya.

Bapak dua anak ini sengaja memilih bandeng sebagai objek utama batiknya, karena bandeng paling representatif mewakili masyarakat Gresik yang sebagian besar petani bandeng, khususnya di daerah pesisir utara. Sedangkan kata "loh" sendiri diambil dari Bahasa Jawa yang artinya `ikan`.

Batik Loh Bandeng, bandeng-bandeng tersebut digambarkan bergerombol searah tanpa kepala memiliki arti filosofis.

"Kami menyukai kebersamaan, di dalam kebersamaan kita adalah sama, karena itu digambarkan tanpa kepala. Kebersamaan menggambarkan keharmonisan, kita tidak akan bisa bersama tanpa memiliki tujuan yang sama," papar pria kelahiran Malang tahun 1963 tersebut.

Selain ikan bandeng, Arifin juga memiliki desain baru lain, yaitu menggabungkan objek rusa Bawean, pohon buah merah asli Bawean, dan sungai Brantas. Arifin memilih rusa endemik Bawean dan pohon buah merah karena ingin menonjolkan kekhasan Gresik, sedangkan sungai Brantas dia tampilkan, sebagai wujud keprihatinan dia dan warga lain di Wringinanom yang tinggal di bantaran sungai Brantas.

"Sungai Brantas di daerah kami sangat kotor, alangkah indahnya jika sungai itu bebas dari sampah dan polusi," jelasnya.

Batik Loh Bandeng ini dibuat dengan menggunakan pewarna alami. Misalnya, warna kuning dibuat dari buah nangka, merah dari mengkudu atau biji pohon kesumba, kuning kehijauan dari buah mangga.

"Target kami adalah pasar internasional, dan mereka biasanya lebih menyukai produk yang berbahan alami," kata Arifin.

Saat ini, dia memastikan tenaga pembatik telah siap. Dia mempersilahkan jika ada investor yang ingin menggunakan batik Loh Bandeng untuk diproduksi secara masal. Arifin memastikan jika batik Loh Bandeng memiliki nilai tawar yang tinggi. Dia mencontohkan, saat pameran, beberapa produk Loh Bandeng yang dia buat tidak pernah tersisa untuk dibawa pulang kembali, selalu habis terjual.

"Pertama kali pameran, batik Loh Bandeng ditawar oleh seorang pembeli yang mengaku seniman dari Bali seharga Rp 5 juta, padahal biaya produksi batik itu hanya Rp 900 ribuan," ceritanya.

Sementara itu, dalam waktu dekat, Arifin akan mematenkan batik Loh Bandengnya. Kendati demikian, semua orang berhak menggunakan motif batik Loh Bandeng tanpa mencantumkan nama dia sebagai penciptanya.

"Kami menerima dengan senang hati jika ada investor yang berkenan untuk memproduksi batik Loh Bandeng," pungkas Arifin.

Jumat, 24 September 2010

batik dulit sisik bandeng


name : indi rachmah winona
class : x-3
absent : 10



BATIK DULIT SISIK BANDENG

Keterangan

Batik Dulit Sisik Bandeng
merupakan ikon baru batik khas kota Gresik, yang makin bersinar di tengah gempuran produk-produk dari negara lain. Batik dengan motif mengangkat produk lokal seperti sisik ikan bandeng, justeru makin diminati, karena mempertahankan nuansa tradisional, tanpa bahan baku kimia, serta menggunakan daun-daun tanaman, yang banyak tumbuh di lingkungan sekitar rumahnya, sebagai bahan pewarna alami.

Arty Israwan (48 tahun) adalah satu-satunya perajin batik dulit sisik bandeng, khas Gresik, di kompleks perumahan Gresik kota baru, kecamatan kebomas, kabupaten Gresik. Di namakan batik tulid, karena proses pewarnaannya di dulit atau hanya di oleskan menggunakan kanvas.

Meski gempuran produk-produk batik dari negara asing mulai membanjiri pasar dalam negeri, tetapi wanita yang telah dikaruniai tiga orang anak tersebut, pantang menyerah dan terus melakukan inovasi produk-produknya.

Berkat ketekunan dan semangat kerjanya, produk batik buatannya, justeru semakin bersinar dan mulai banyak diminati warga.

Batik dulit sisik bandeng dan mahkota giri, merupakan salah satu produk batik unggulan, karya tangan terampilnya, yang kini mulai disuka warga.

Menurut Arty, selain mempertahankan nuansa lokal tradisional, dirinya juga tidak menggunakan bahan-bahan kimia sebagai pewarna produknya. Tetapi, menggunakan bahan-bahan alamiah, diantaranya daun jati, daun sirih, daun kenikir, daun jambu, dan tanaman lain yang banyak tumbuh di lingkungan sekitar rumah warga.

Terobosan ini, sengaja dilakukan agar kualitas produknya makin terjaga. Dengan bahan alamiah ini, produk batik buatanya, tidak membuat alergi, dan nyaman dipakai setiap orang. “Saya gunakan daun daun alami sebagai pewarnanya, untuk mempertahankan kesan alami", ujarnya.

Dengan mengandalkan bahan dan motif lokak itulah, batk dulit milik arty semakin di suka pelanggannya karena mampu membangkitkan rasa percaya diri. Ita rahmawati, salah satu konsumen batik misalnya, mengatakan, sangat menyukai batik sisik bandeng, karena dingin dipakai, dan corak warnanya identik dengan warga Gresik, sebagai penghasil bandeng. “Batik ini menambah rasa percaya diri saya”, ungkapnya.
Sama dengan produk batik lainnya, pembuatan batik dulit sisik bandeng diawali dengan pembuatan desain, dan dilanjutkan dengan proses canting.

Setelah itu, dilanjutkan dengan proses dulit, yakni pewarnaan melalui olesan yang dilanjutkan dengan proses nembok, menggunakan malam, untuk menutup warna.

Selanjutnya, kain direbus untuk menghilangkan malam, dan dilanjutkan dengan pewarnaan, yang memanfaatkan menggunakan bahan baku alamiah, yakni daun-daun tanaman, yang memiliki pewarna alami, diantaranya daun sirih, yang banyak tumbuh di sekitar pekarangan.
Sedangkan, produk batik dulit khas Gresik ini dijual dengan harga bervariatif mulai dari 150 ribu sampai dengan satu setengah juta rupiah, tergantung kualitas kainnya.

Di tengah kesuksesannya memperkenalkan produk lokal khas daerah ini, arty mengaku mengalami kendala modal dan promosi. Arty berharap pemerintah setempat memperhatikan kelangsungan usahanya. Apalagi, Arty saat ini tengah menanggung nasib 6 orang karyawannya yang menggantungkan hidup pada penjualan batik dulit.

Sabtu, 04 September 2010

BATIK SISIK BANDENG KHAS GRESIK

Nama: Lutfi Maula Robbi

Kelas:X-3

NO: 12

BATIK NDULIT SISIK BANDENG GRESIK.

Mari rehat sejenak meninggalkan Jakarta yang semakin sumpek dengan mengalihkan perhatian sejenak ke kota sahabat sehat dengan kundalini reiki Sdr. Arief Wibisono yang tinggal di Gresik Jawa Timur. Kedatangan kami Rabu 14/04/2010 lalu selain ingin melihat Gresik sebagai kota yang menghasilkan semen untuk bahan bangunan rumah, juga ingin melihat peninggalan Mesjid Agung Gresik. Gresik mendapat sebutan kota wali, terkenal pula lukisan lampion karya Masmundari almarhumah yang begitu melegenda sejak dulu, ternyata kota ini diam-diam juga menghasilkan batik.

Geliat produksi batik paska penetapan hak paten oleh Unesco bahwa batik sebagai budaya asli Indonesia, semakin menggairahkan perajin batik lokal gaya pesisir utara Jawa Timur tepatnya di Gresik untuk membuat batik khas pesisir utara Jawa Timur. Ikon batik dengan motif lokal khas daerah pun seperti di Gresik ini pun bermunculan. Salah satunya adalah batik ndulit sisik bandeng khas Gresik.

Geliat batik ndulit sisik bandeng ternyata sudah dimulai lima bulan lalu. Usaha kecil menengah UKM ini dikelola oleh Siti Zainubah Budiarty atau akrab dipanggil Bu Arti. Lokasi pabrik batik mudah ditemui tepatnya di Jalan Magetan Kecamatan Kebomas, Kompleks Perumahan Gresik Kota Baru. Aktivitas produksi batik tidak pernah sepi dari pesanan seiring meningkatnya pesanan. Tidak itu saja selain pengakuan batik oleh Unesco terhadap batik lokal seperti batik Gresik ini, peminat batik mulai melirik motif khas budaya lokal seperti batik Gresik ini.

Batik Dulit Sisik Bandeng merupakan ikon baru batik khas kota Gresik, yang makin bersinar di tengah gempuran produk-produk dari negara lain. Batik dengan motif mengangkat produk lokal seperti sisik ikan bandeng, justeru makin diminati, karena mempertahankan nuansa tradisional, tanpa bahan baku kimia, serta menggunakan daun-daun tanaman, yang banyak tumbuh di lingkungan sekitar rumahnya, sebagai bahan pewarna alami.

Yang menjadi ciri khas batik Gresik adalah motip sisik bandeng yang menjadi ikon baru batik lokal khas Gresik. Selain motipnya yang khas dan tetap mempertahankan nuansa tradisional, penggunaan pewarna alami tanpa bahan kimia dengan bahan alami dari daun jati, daun sirih, daun kenikir dan daun jambu pun dipergunakan untuk pewarnaan kain batik ini. Dengan pewarnaan alami ini maka batik ndulit yang dihasilkan pun lebih natural dengan corak khas sisik bandeng.

Dinamakan batik ndulit karena proses pewarnaannya dengan cara di dulit atau dioleskan dengan menggunakan kanvas dari batang rotan. Sementara inovasi penggunaan motif lokal sisik bandeng dan mahkota giri diambil karena Gresik merupakan salah satu sentra penghasil ikan bandeng yang sudah cukup lama dikenal masyarakat pesisir utara Jawa Timur khususnya warga Surabaya dan sekitarnya. Sama dengan produk batik lainnya, pembuatan batik ndulit sisik bandeng ini pun diawali dengan pembuatan desain di atas kain putih.

Dengan mengikuti alur coretan pensil di atas kain putih, pekerja batik lalu menorehkan malam atau lilin dengan menggunakan canting mengikuti pola batik sisik bandeng yang terlukis di kain putih. Selesai proses menyanting, tahap berikutnya adalah proses ndulit atau memberi warna motif desain dengan menggunakan kanvas dari rotan. Selesai proses ini kemudian dilanjutkan proses nembok dengan menggunakan malam atau lilin untuk menutup warna yang telah ditorehkan pada motif sisik bandeng.

Selanjutnya kain siap untuk memasuki proses pewarnaan total dan menghilangkan malam yang dicelupkan di dalam jambangan berisi air panas mendidih yang disebut dengan nglorot. Proses nglorot selesai lalu kain dicuci bersih kemudian diangin-anginkan di bawah atap rumah agar tidak terkena terpaan sinar matahari untuk menghindari warna tidak luntur dan tetap alami. Batik ndulit khas Gresik ini dijual dengan harga bervariasi. Mulai harga seratus dua puluh lima ribu rupiah sampai satu setengah juta rupiah tergantung kualitas kain yang digunakan.

Ternyata batik ndulit karya Bu Arty ini sudah mulai dipasarkan di beberapa kota antara lain Surabaya, Lamongan dan Malang. Di tengah kesuksesan memperkenalkan produk batik lokal khas daerah Gresik ini, demi kelangsungan usahanya sebagai usaha kecil menengah pihaknya berharap adanya dukungan modal dari pemerintah daerah setempat. Tidak itu saja promosi yang berkelanjutan pun dipermudah perizinannya baik lewat koran lokal Jawa Timur dan koran nasional. ” Wah….kalau urusan promosi pun jangan takut Bu Arty…blog sehat dengan kundalini reiki ini pun menjadi ajang promosi gratis bagi usaha Anda.”

Minggu, 22 Agustus 2010

SONGKOK CHENG - HO


NAMA : ANISAH NURUL H
KELAS : X - 3
NO.ABS : 05

SENI TERAPAN


              Di daerahku, banyak pengrajin yang membuat seni terapan , seni tersebut merupakan seni rupa yang dibuat untuk memenuhi kebutuhan praktis. Dan seni ini sangat memperhatikan fungsi dari pada keindahannya. Contohnya itu , peci atau songkok , peci itu biasanya berbalut kain hitam saja , tapi dengan adanya perkembangan zaman, peci tersebut tidak hanya berbalut kain hitam saja. Tetapi juga ada songkok soga , songkok garmet , songkok cheng-ho dan lain – lain. Jadi songkok sekarang itu memperhatikan fungsi dan keindahannya juga. Jadi, dapat kita simpulkan bahwa , seni terapan sekarang ini juga memperhatikan keindahannya.

Keunikan songkok cheng - ho


Songkok , merupakan sebuah benda yang digunakan untuk sembahyang ( sholat ) oleh orang islam. Bagi tentara Brunai Darussalam dan Malysia , mereka menggunakan songkok untuk upacara – upacara tertentu.


Bagi kalangan orang Islam di Nusantara, songkok menjadi pemakaian kepala yang resmi ketika menghadiri upacara-upacara resmi seperti upacara perkawinan, salat Jumat, upacara keagamaan dan sewaktu menyambut Idul Fitri dan Idul Adha. Songkok juga dipakai sebagai pelengkap kepada baju Melayu yang dipakai untuk menghadiri majelis-majelis tertentu.


Biasanya, songkok dibuat lonjong seperti bentuk oval , tetapi berbeda dengan songkok cheng ho ini. Songkok ini dibuat seperti lingkaran, dan terdapat motif china disongkok tersebut. Yaaa … karena Cheng-ho sendiri diambil dari seorang nama kaisar dari China yang beragama muslim. Konon, dulu songkok ini mirip dengan topi yang digunakan oleh pejabat china dulu.


Keunikan teknik songkok - cheng ho


Seperti yang telah dikatakan di atas, songkok ini berbentuk lingkaran. Dan terdapat bagian yang menggunung di bagian tengah pada songkok ini. Kemungkinan, songkok ini memiliki ketinggian ±10 cm. Juga motif atau desain menarik yang mengelilingi songkok ini. Terdapat bermacam – macam songkok cheng-ho. Tetapi ini adalah dua contoh songkok chengiho,yaitu :Cheng ho kombi dan Cheng ho putih.

GAMBAR - GAMBAR SONGKOK CHENG-HO :

songkok cheng - ho
songkok cheng - ho putih
songkok cheng ho kombi
songkok cheng - ho
GAMBAR - GAMBAR BERBAGAI SONGKOK :

songkok polos

songkok motif soga
songkok motif soga
songkok
songkoksongkok