Sabtu, 25 September 2010

Songkok gresik









NURVIKA MIRA EKA LESTARI
X-3 (22)

SONGKOK GRESIK

-Setiap bulan Suci Ramadhan tiba selalu membawa berkah bagi perajin songkok, termasuk pengrajin songkok rumahan Awing di Kelurahan Blandongan Kecamatan Kota Gresik, Jawa Timur, yang saat ini sedang kebajiran order (pesanan). Dalam tiga bulan ini 30 ribu songkok yang berhasil diproduksi oleh Awing sudah ludes terjual atau sudah diambil pemesan.

Menurut bagian penjualan produksi songkok Awing, Benny Wahidin mengatakan, pemesan songkok Awing lebih banyak dari daerah Jawa Barat. Dari 30 ribu songkok yang sudah terjual menjelang Ramadhan tahun ini sebanyak 20 ribu beredar di Jawa Barat.

"Sebenarnya produksi kita beredar ke seluruh Indonesia dan bahkan ke luar negeri. Seperti Singapura, Malaysia, dan Brunai Darussalam. Tetapi memang pasar kita terbanyak berada di Jawa Barat dan Jakarta. Ramadhan tahun ini ada sekitar 20 ribu songkok yang sudah beradar di Jakarta," kata Benny Wahidin, Jumat (27/8). Bulan Ramadhan ini, Awing masih melakukan produksi hingga mendekati Hari Raya nanti dengan target produksi 15 ribu songkok, sesuai dengan pesanan yang masuk.

Awing menjual hasil produksinya dengan harga bervariasi, mulai harga termahal Rp 115 ribu hingga paling murah Rp 20 ribu. Memasuki Ramadhan tahun ini Awing sudah mendapatkan omzet sekitar Rp 4 miliar.

"Memang pasar songkok yang paling rame ketika mendekati bulan Ramadhan dan Hari Raya. Mendekati Rp 4 miliar kurang lebih," jelasnya. "Kalau hari-hari biasa songkoknya hanya laku setengah dari penjualan saat memasuki Ramadhan seperti sekarang," tandasnya. Benny menceritakan, Awing berdiri tahun 1986. Home indutry ini, awalnya mengkoordinir beberapa perajin songkok yang ada di Blandongan.

Sebelumnya, songkok yang dihasilkan pengrajin Blandongan kerangka dalamnya berbahan kertas, ini membuat usia songkok tak tahan lama. Berangkat dari pengalaman itu, Awing berusaha berinovasi dengan menggunakan kerangka berbahan kain keras.

Kelebihan mengggunakan kerangka berbahan kain keras ini lebih nyaman dan enak penggunaannya. Tapi, pengrajin di seluruh Indonesia dan tentunya juga di Blandongan tak berani meniru menggunakan kerangka berbahan kain keras kala itu. "Biayanya lebih mahal," jelas Benny.

Tahun 1986 saat itu, tambahnya, harga songkok yang menggunakan kerangka berbahan kertas Rp 3 ribu sedangkan dengan menggunakan bahan kain keras mencapai lima kali lipatnya, Rp 15 ribu. Tapi, Awing tetap optimis, dan hasilnya tak seperti dugaan perajin songkok lainnya, songkok bikinan Awing direspons baik oleh konsumen.

Songkok seharga Rp 15 ribu bikinan Awing itu mampu menarik banyak konsumen. Dan perajin lain pun membuntuti langkah Awing. Perlahan-lahan Awing dikenal oleh banyak konsumen dan perusahaan itu semakin mengembangkan sayapnya. Hingga tahun 1992, Awing membuka cabang di Jakarta dan kewalahan menerima order.

"Pada tahun-tahun itu, almarhum mantan Presiden RI Soeharto pun menggunakan songkok Awing, setiap tiga bulan sekali, ajudan Presiden memesannya langsung," jelas Benny. Dalam perkembangannya, tambah Benny, orang menggunakan songkok tak hanya untuk beribadah, tapi juga untuk kepentingan-kepentingan formal. Awing mampu memproduksi sedikitnya 300 ribu songkok per tahun dengan omzet mencapai Rp 7 miliar setahun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.